Tersadar…
Tak terasa beberapa menit berlalu dengan hanya memandang sebuah kain berwarna biru yang mirip jubah itu ditambah dengan topi berbentuk segi empat dan medali berwarna perunggu dengan logo gajah di tengahnya. Sejak mengambilnya tadi pagi, selalu terselip perasaan bahagia, bangga, sekaligus lega bercampur satu menjadi sebuah perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya mata yang berkaca-kaca karena haru yang dapat menjelaskannya.
Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa baru, melewati jalan Ganesha, menuju ruang kelas dengan semangat membara. Tapi tiba-tiba saja aku harus mengambil toga untuk kemudian diwisuda. Padahal nyatanya ada proses “kerja lembur bagai kuda” didalamnya.
Lalu ingatanku melanglang buana, bernostalgia ke masa dimana aku masih memakai seragam putih-biru.
Aku yang sudah beberapa kali mengikuti lomba pramuka dan lomba cerdas cermat agama islam sejak SD, memiliki keinginan untuk melanjutkan kebiasaan mengikuti perlombaan itu. Tapi minatku mengikuti pramuka sudah turun. Aku sudah tak begitu tertarik untuk mengikuti ekstrakurikulernya. Perhatianku pun tertuju pada ekstrakurikuler Rohis (Rohani Islam). Entah kenapa aku cukup tertarik mengikuti ekstrakurikuler itu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung meminta formulir pendaftarannya dan menyerahkannya kembali saat itu juga setelah semua biodata diri lengkap aku isi.
Pada awalnya aku tidak tahu caranya mengikuti lomba di tingkat SMP. Hingga kemudian, pembina Rohis di awal pertemuannya mengumumkan bahwa akan ada pembinaan untuk persiapan lomba Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam atau yang lebih sering dikenal dengan PENTAS PAI. Cabang lombanya meliputi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Kaligrafi, Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Pidato dan Cerdas Cermat.
“Silahkan bagi yang berminat untuk bersiap-siap mengikuti pembinaannya dan dapat menghubungi Yosiva, ketua Rohis kita untuk didata dan mendapat info lebih lanjut,” ucap Ibu pembina menutup pengumuman.
Mendengar lomba cerdas cermat disebut, bermodal nekat aku langsung menghampiri kakak kelas yang tadi disebut-sebut sebagai ketua Rohis.
“Teh, maaf mau nanya kalau mau ikut pembinaan lomba cerdas cermat gimana, ya?”
“Ohhh tertarik ikut cerdas cermat ya? Boleh-boleh, saya data dulu ya, siapa namanya, dari kelas berapa?”
“Clara Putri, Teh, dari kelas 7-1.”
“Oke, nanti hari rabu ada pertemuan perdana buat pembinaan lomba cerdas cermat sepulang sekolah tempatnya di perpustakaan. Langsung datang aja ya!”
“Siap Teh, hehehehe.”
Percaya diriku langsung turun setelah melihat banyak sekali yang berminat mengikuti pembinaan cerdas cermat. Bagaimana caranya aku bisa lolos seleksi menjadi peserta jika calon pesertanya saja sudah sebanyak ini?
“Jangan khawatirkan masalah lolos atau tidak menjadi peserta, yang penting kalian sungguh-sungguh mengikuti pembinaannya, melewati setiap tahap yang memang harus dilalui. Toh, kalaupun kalian tidak terpilih menjadi peserta, ilmu yang didapat tidak akan sia-sia, percayalah,” ujar Bu Irma, pembina kami yang seolah-olah dapat membaca pikiranku.
Kalimat itulah yang menjadi modalku untuk selalu berproses, bersabar atas setiap kesulitan yang menghadang dan tidak putus asa pada Dia yang dapat menguatkan. Semua hal itu berakumulasi dan mengantarkanku pada gelar sarjana yang akan resmi kusandang dua hari lagi.
Bu Irma telah menyadarkanku, bahwa seorang “pemenang” tidak dilihat dari hasil akhir yang ia didapat, tapi bagaimana ia melewati setiap proses yang harus dilaluinya. Hingga kemudian, proses itu bermuara pada transformasi diri yang lebih baik.
***
Quotes bahasa Arab
Imam Syafi’I berkata:
لَا يُدْرَكُ العِلْمُ إِلَّا بِالصَّبْرِ عَلَى الضُّرِّ
La yudrakul-‘ilmu illaa bish-shabri ‘aladh-dhurri
“Ilmu tidak akan didapat kecuali dengan bersabar atas kesulitan.”
-----
Cerita ini masuk ke dalam 50 cerita terbaik dalam kegiatan "Lomba Menulis Cerita Mini" tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo dengan tema "Destinasi Pejuang".
Komentar
Posting Komentar